Selasa, 30 November 2010

Sekilas Sejarah Prabu KIANSANTANG

Sejarah ini aku copas dari www.kabarindonesia.com dengan beberapa editan.

Godog adalah
suatu daerah pedesaan yang
indah dan nyaman berjarak 10
km kearah timur dari kota Garut.
Berada pada desa Lebakagung,
kecamatan Karangpawitan,
kabupaten Garut. Disana
terdapat makam Prabu
Kiansantang atau yang dikenal
dengan sebutan Makam Godog
Syeh Sunan Rohmat Suci.
Prabu Kiansantang atau Syeh
Sunan Rohmat Suci adalah salah
satu putra keturunan raja
Pajajaran yang bernama Sri Baduga atau lebih dikenal dengan nama prabu
Siliwangi dan ibunya bernama
Subang Larang. Mempunyai
dua saudara yang bernama Rara Santang dan Walang
Sungsang atau Pangeran Cakra Buwana.
Prabu Kiansantang lahir tahun
1315 Masehi di Pajajaran yang
sekarang Kota Bogor. Pada usia
22 tahun tepatnya tahun 1337
masehi Prabu Kiansantang
diangkat menjadi dalem Bogor
ke 2 yang saat itu bertepatan
dengan upacara penyerahan
tongkat pusaka kerajaan dan
penobatan Prabu Munding
Kawati, putra Sulung Prabu
Susuk Tunggal, menjadi panglima
besar Pajajaran. Guna
mengenang peristiwa sakral
penobatan dan penyerahan
tongkat pusaka Pajajaran
tersebut, maka ditulislah oleh
Prabu Susuk Tunggal pada
sebuah batu, yang dikenal
sampai sekarang dengan nama
Batu Tulis Bogor.
Peristiwa itu merupakan kejadian
paling istimewa di lingkungan
Keraton Pajajaran dan dapat
diketahui oleh kita semua
sebagai pewaris sejarah bangsa
khususnya di Jawa Barat. Prabu
Kiansantang merupakan sinatria
yang gagah perkasa, tak ada
yang bisa mengalahkan
kegagahannya. Sejak kecil
sampai dewasa yaitu usia 33
tahun, tepatnya tahun 1348
Masehi, Prabu Kiansantang
belum tahu darahnya sendiri
dalam arti belum ada yang
menandingi kegagahannya dan
kesaktiannya disejagat pulau
Jawa.
Sering dia merenung seorang diri
memikirkan, "dimana ada orang
gagah dan sakti yang dapat
menandingi kesaktian dirinya".
Akhirnya Prabu Kiansantang
memohon kepada ayahnya yaitu
Prabu Siliwangi supaya
mencarikan seorang lawan yang
dapat menandinginya. Sang ayah
memanggil para ahli nujum
untuk menunjukkan siapa dan
dimana ada orang gagah dan
sakti yang dapat menandingi
Prabu Kiansantang. Namun tak
seorangpun yang mampu
menunjukkannya.
Tiba-tiba datang seorang kakek
yang memberitahu bahwa orang
yang dapat menandingi
kegagahan Prabu Kiansantang
itu adalah Sayyidina Ali, yang
tinggal jauh di Tanah Mekah.
Sebetulnya pada waktu itu
Sayyidina Ali telah wafat, namun
kejadian ini dipertemukan secara
goib dengan kekuasaan Alloh
Yang Maha Kuasa.
Lalu orang tua itu berkata
kepada Prabu Kiansantang:
"Kalau memang anda mau
bertemu dengan Sayyidina Ali
harus melaksanakan dua syarat:
Pertama, harus mujasmedi dulu
di ujung kulon. Kedua, nama
harus diganti menjadi Galantrang
Setra (Galantrang - Berani, Setra
- Bersih/ Suci). Setelah Prabu
Kiansantang melaksanakan dua
syarat tersebut, maka
berangkatlah dia ke tanah Suci
Mekah pada tahun 1348 Masehi.
Setiba di tanah Mekah beliau
bertemu dengan seorang lelaki
yang disebut Sayyidina Ali,
namun Kiansantang tidak
mengetahui bahwa laki-laki itu
bernama Sayyidina Ali. Prabu
Kiansantang yang namanya
sudah berganti menjadi
Galantrang Setra menanyakan
kepada laki-laki itu: "Kenalkah
dengan orang yang namanya
Sayyidina Ali?" Laki-laki itu
menjawab bahwa ia kenal, malah
bisa mengantarkannya ke tempat
Sayyidina Ali.
Sebelum berangkat laki-laki itu
menancapkan dulu tongkatnya
ke tanah, yang tak diketahui
oleh Galantrang Setra. Setelah
berjalan beberapa puluh meter,
Sayyidina Ali berkata, "Wahai
Galantrang Setra tongkatku
ketinggalan di tempat tadi, coba
tolong ambilkan dulu." Semula
Galantrang Setra tidak mau,
namun Sayyidina Ali
mengatakan, "Kalau tidak mau
ya tentu tidak akan bertemu
dengan Sayyidina Ali."
Terpaksalah Galantrang Setra
kembali ketempat bertemu,
untuk mengambilkan tongkat.
Setibanya di tempat tongkat
tertancap, Galantrang Setra
mencabut tongkat dengan
sebelah tangan, dikira tongkat
itu akan mudah lepas. Ternyata
tongkat tidak bisa dicabut,
malahan tidak sedikitpun
berubah. Sekali lagi dia berusaha
mencabutnya, tetapi tongkat itu
tetap tidak berubah. Ketiga
kalinya, Galantrang Setra
mencabut tongkat dengan
sekuat tenaga dengan disertai
tenaga bathin. Tetapi dari pada
kecabut, malahan kedua kaki
Galantrang Setra amblas masuk
ke dalam tanah, dan keluar
pulalah darah dari seluruh
tubuh Galantrang Setra.
Sayyidina Ali mengetahui
kejadian itu, maka beliaupun
datang. Setelah Sayyidina Ali
tiba, tongkat itu langsung
dicabut sambil mengucapkan
Bismillah dan dua kalimat
syahadat. Tongkatpun terangkat
dan bersamaan dengan itu
hilang pulalah darah dari tubuh
Galantrang Setra. Galantrang
Setra merasa heran kenapa
darah yang keluar dari tubuh itu
tiba-tiba menghilang dan
kembali tubuhnya sehat.
Dalam hatinya ia bertanya.
"Apakah kejadian itu karena
kalimah yang diucapkan oleh
orang tua itu tadi?”. Kalaulah
benar, kebetulan sekali, akan
kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi
laki-laki itu tidak menjawab.
Alasannya, karena Galantrang
Setra belum masuk Islam.
Kemudian mereka berdua
berangkat menuju kota Mekah.
Setelah tiba di kota Mekah,
dijalan ada yang bertanya
kepada laki-laki itu dengan
sebutan Sayyidina Ali. "Kenapa
anda Ali pulang terlambat?”.
Galantrang Setra kaget
mendengar sebutan Ali tersebut.
Ternyata laki-laki yang baru
dikenalnya tadi namanya
Sayyidina Ali. Setelah Prabu
Kiansantang meninggalkan kota
Mekah untuk pulang ke Tanah
Jawa (Pajajaran) dia terlunta-
lunta tidak tahu arah tujuan,
maka dia berpikir untuk kembali
ke tanah Mekah lagi. Maka
kembalilah Prabu Kiansantang
dengan niatan akan menemui
Sayyidina Ali dan bermaksud
masuk agama Islam. Pada tahun
1348 Masehi Prabu Kiansantang
masuk agama Islam, dia
bermukim selama dua puluh hari
sambil mempelajari ajaran agama
Islam. Kemudian dia pulang ke
tanah Jawa (Pajajaran) untuk
menengok ayahnya Prabu
Siliwangi dan saudara-
saudaranya. Setibanya di
Pajajaran dan bertemu dengan
ayahnya, dia menceritakan
pengalamannya selama
bermukim di tanah Mekah serta
pertemuannya dengan Sayyidina
Ali. Pada akhir ceritanya dia
memberitahukan dia telah
masuk Islam dan berniat
mengajak ayahnya untuk masuk
agama Islam. Prabu Siliwangi
kaget sewaktu mendengar cerita
anaknya yang mengajak masuk
agama Islam. Sang ayah tidak
percaya, malahan ajakannya
ditolak. Tahun 1355 Masehi
Prabu Kiansantang berangkat
kembali ke tanah Mekah,
jabatan kedaleman untuk
sementara diserahkan ke Galuh
Pakuan yang pada waktu itu
dalemnya dipegang oleh Prabu
Anggalang. Prabu Kiansantang
bermukim di tanah Mekah
selama tujuh tahun dan
mempelajari ajaran agama Islam
secara khusu. Merasa sudah
cukup menekuni ajaran agama
Islam, kemudian beliau kembali
ke Pajajaran tahun 1362 M.
Beliau berniat menyebarkan
ajaran agama Islam di tanah
Jawa. Kembali ke Pajajaran,
disertai oleh Saudagar Arab yang
punya niat berniaga di Pajajaran
sambil membantu Prabu
Kiansantang menyebarkan
agama Islam. Setibanya di
Pajajaran, Prabu Kiansantang
langsung menyebarkan agama
Islam di kalangan masyarakat,
karena ajaran Islam dalam
fitrohnya membawa keselamatan
dunia dan akhirat. Masyarakat
menerimanya dengan tangan
terbuka. Kemudian Prabu
Kiansantang bermaksud
menyebarkan ajaran agama
Islam di lingkungan Keraton
Pajajaran.
Setelah Prabu Siliwangi
mendapat berita bahwa anaknya
Prabu Kiansantang sudah
kembali ke Pajajaran dan akan
menghadap kepadanya. Prabu
Siliwangi yang mempunyai
martabat raja mempunyai
pikiran. "Dari pada masuk agama
Islam lebih baik aku
muninggalkan istana keraton
Pajajaran". Sebelum berangkat
meninggalkan keraton, Prabu
Siliwangi merubah Keraton
Pajajaran yang indah menjadi
hutan belantara. Melihat gelagat
demikian, Prabu Kiansantang
mengejar ayahnya. Beberapa kali
Prabu Siliwangi terkejar dan
berhadapan dengan Prabu
Kiansantang yang langsung
mendesak sang ayah dan para
pengikutnya agar masuk Islam.
Namun Prabu Siliwangi tetap
menolak, malahan beliau lari ke
daerah Garut Selatan ke salah
satu pantai. Prabu Kiansantang
menghadangnya di laut Kidul
Garut, tetapi Prabu Siliwangi
tetap tidak mau masuk agama
Islam.
Dengan rasa menyesal Prabu
Kiansantang terpaksa
membendung jalan larinya sang
ayah. Prabu Siliwangi masuk
kedalam gua, yang sekarang
disebut gua sancang
Pameungpeuk. Prabu
Kiansantang sudah berusaha
ingin meng Islamkan ayahnya,
tetapi Alloh tidak memberi taufiq
dan hidayah kepada Prabu
Siliwangi.
Prabu Kiansantang kembali ke
Pajajaran, kemudian dia
membangun kembali kerajaan
sambil menyebarkan agama
Islam ke pelosok-pelosok
daerah, dibantu oleh saudagar
arab sambil berdagang. Namun
istana kerajaan yang diciptakan
oleh Prabu Siliwangi tidak
dirubah, dengan maksud pada
akhir nanti anak cucu atau
generasi muda akan tahu bahwa
itu adalah peninggalan sejarah
nenek moyangnya.
Sekarang lokasi istana itu disebut
Kebun Raya Bogor. Pada tahun
1372 Masehi Prabu Kiansantang
menyebarkan agama Islam di
Galuh Pakuwan dan dia sendiri
yang mengkhitanan orang yang
masuk agama Islam. Tahun 1400
Masehi, Prabu Kiansantang
diangkat menjadi Raja Pajajaran
menggantikan Prabu Munding
Kawati atau Prabu Anapakem I.
Namun Prabu Kiansantang tidak
lama menjadi raja karena
mendapat ilham harus uzlah,
pindah dari tempat yang ramai
ketempat yang sepi.
Dalam uzlah itu beliau diminta
agar bertafakur untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah
SWT, dalam rangka mahabah
dan mencapai kema'ripatan.
Kepada beliau dimintakan untuk
memilih tempat tafakur dari ke 3
tempat yaitu Gunung Ceremai,
Gunung Tasikmalaya, atau
Gunung Suci Garut. Waktu uzlah
harus dibawa peti yang berisikan
tanah pusaka. Peti itu untuk
dijadikan tanda atau petunjuk
tempat bertafakur nanti, apabila
tiba disatu tempat peti itu godeg/
berubah, maka disanalah tempat
dia tafakur, dan kemudian nama
Kiansantang harus diganti
dengan Sunan Rohmat. Sebelum
uzlah Prabu Kiansantang
menyerahkan tahta kerajaan
kepada Prabu Panatayuda putra
tunggal Prabu Munding Kawati.
Setelah selesai serah terima tahta
kerajaan dengan Prabu
Panatayuda, maka berangkatlah
Prabu Kiansantang meninggalkan
Pajajaran.
Yang dituju pertama kali adalah
gunung Ceremai. Tiba disana lalu
peti disimpan diatas tanah,
namun peti itu tidak godeg alias
berubah. Prabu Kiansantang
kemudian berangkat lagi ke
gunung Tasikmalaya, disana juga
peti tidak berubah. Akhirnya
Prabu Kiansantang memutuskan
untuk berangkat ke gunung Suci
Garut. Setibanya di gunung Suci
Garut peti itu disimpan diatas
tanah secara tiba-tiba berubah/
godeg.
Dengan godegnya peti tersebut,
itu berarti petunjuk kepada
Prabu Kiansantang bahwa
ditempat itulah, beliau harus
tafakur untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Tempat itu
kini diberi nama Makam Godog.
Prabu Kiansantang bertafakur
selama 19 tahun. Sempat
mendirikan Mesjid yang disebut
Masjid Pusaka Karamat Godog
yang berjarak dari makam godog
sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu
Kiansantang namanya diganti
menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci
dan tempatnya menjadi Godog
Karamat. Beliau wafat pada
tahun 1419 M atau tahun 849
Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci
wafat ditempat itu yang sampai
sekarang dinamakan Makam
Sunan Rohmat Suci atau Makam
Karamat Godog.

Senin, 22 November 2010

Tantangan Dari Tuhan

"Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus/melintasi penjuru langit dan bumi maka lintasilah. Kamu tidak akan sanggup menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthon)" Al-Rahman: 33

Allah SWT membuat sebuah tantangan kepada kita untuk dapat menembus langit dan bumi, dengan isyarat bahwa hanya dengan kekuatan kita bisa menembusnya. Kekuatan apakah itu? Allah menggunakan kata sulthan dalam ayat ini, mengapa? Kenapa gak pake kata quwwah atau haul? Pasti ada sesuatu di balik kata tersebut. Tau gak kamu maksudnya? Bingung ya?
Ok, sekarang kita harus tau dulu makna khosh dari sulthon, quwwah dan haul yg secara garis besar berarti kekuatan. Namun sebelum saya jelaskan satu persatu, saya ingin tau pendapat para blogger tentang makna ke 3 kata tersebut... Tolong d jawab ya, komen juga boleh...

Minggu, 21 November 2010

Film Search engine

Mesin pencari ini dapat memudahkan mencari film-film terbaru ataupun film-film lawas favorit kamu... Silakan klik gambar di bawah ini!
TheHack3r.com

FREE SMS

Bagi yang fakir pulsa, kami persilakan menggunakan fasilitas di bawah ini, karena Sang Prabu sedang baik hati, monggo... B-)
Note: normal pemakaian dari jam 06.00-20.00, harap maklum ;-)